Hierarki Ruang Sakral–Profan Sebagai Mekanisme Resiliensi Kultural Kawasan Pusaka Masjid-Makam Sendangduwur, Lamongan
Abstract
Kawasan pusaka religi di pesisir utara Jawa menghadapi tekanan ganda: degradasi fisik-spasial dan lemahnya implementasi tata kelola formal. Kajian resiliensi pusaka selama ini menempatkan regulasi dan intervensi teknis sebagai penopang utama, sedangkan peran struktur ruang kultural belum banyak diuji secara empiris. Penelitian ini menguji hierarki ruang sakral–profan sebagai mekanisme resiliensi kultural pada kawasan Masjid-Makam Sendangduwur, Paciran, Lamongan, situs akulturasi Hindu-Islam abad ke-16. Pendekatan kualitatif deskriptif-analitis memadukan observasi lapangan dua sesi, pemetaan perilaku tiga tipologi pengguna, pengukuran spasial, wawancara, dan telaah dokumen regulasi. Tiga temuan diperoleh: kawasan tersusun dalam tiga lapis gradasi (profan, threshold, sakral) mengikuti topografi teras berundak; zona profan dan threshold mengalami degradasi nyata seiring lebih dari satu dekade tidak terimplementasinya rencana tata bangunan; sedangkan zona inti sakral tetap utuh secara fisik dan ritual. Hierarki sakral–profan yang dipelihara praktik ziarah bekerja sebagai mekanisme resiliensi mandiri namun selektif. Penguatan zona threshold direkomendasikan sebagai strategi intervensi yang selaras.