Studi Tekno Ekonomi Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Badi, Provinsi Sulawesi Selatan
Abstract
PLN berkomitmen meningkatkan bauran energi terbarukan dan mencapai Net Zero Emissions pada tahun 2060, sebagaimana tertuang dalam RUPTL 2025-2034. Langkah konkretnya adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau sistem hibrida, seperti yang direncanakan di Pulau Badi, Sulawesi Selatan. Studi menggunakan perangkat lunak HOMER Pro mensimulasikan sistem hibrida PLTD-PLTS-Baterai untuk mencari konfigurasi yang optimal dengan Net Present Cost (NPC) dan Levelized Cost of Energy (LCOE) terendah, serta mengurangi emisi. Hasil simulasi menunjukkan Skenario 2 sebagai yang optimal, yaitu operasi hibrida dua generator diesel (PLTD 1 dan PLTD 2) dengan PLTS dan sistem baterai. Konfigurasi ini signifikan menurunkan NPC dari Rp 41,1 Miliar menjadi Rp 37,6 Miliar dan LCOE turun 8% menjadi Rp 5.264,74/kWh. Emisi CO2 juga berkurang dari 454.782 kg/tahun menjadi 334.751 kg/tahun. Analisis sensitivitas menekankan bahwa kenaikan harga bahan bakar akan meningkatkan LCOE, menunjukkan dampak volatilitas harga bahan bakar.